Minggu, 01 Mei 2011

haa iki "Unur-unur" Berharga di Pantai Utara

Sabtu, 30 April  2011

"Unur-unur" Berharga di Pantai Utara

 Cornelius Helmy dan M Kurniawan

Hingga 1985, ”unur” yang bertebaran di Kawasan Batujaya, Kabupaten Karawang, tak lebih dari gundukan tanah. Berkat jasa peneliti dan arkeolog, gundukan itu kini mewujud candi dengan beragam peninggalan berharga yang menyimpan kisah manusia masa silam pantai utara Jawa Barat.
Warga Batujaya menyebut gundukan-gundukan tanah yang tersebar di sekitar tempat tinggalnya dengan istilah unur atau lemah duhur (tanah tinggi). Sebutan unur juga mengacu pada reruntuhan bata yang menggunduk dan menyerupai sarang rayap di tengah hamparan sawah.
Sejumlah unur telah memiliki nama, seperti Unur Jiwa, Blandongan, Serut, Lempeng, Lingga, Asem, Damar, dan Gundul. Tak sedikit yang belum punya nama dan tersebar di hamparan seluas 5 kilometer persegi atau 500 hektar di wilayah Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, serta Desa Telagajaya, Kecamatan Pakisjaya. Wilayah ini berada sekitar 47 kilometer barat laut pusat kota Karawang.
Kaisin (73), juru pelihara kompleks Percandian Batujaya, warga Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, mengatakan, beberapa nama unur mengacu identifikasi warga terhadap tempat tersebut. Unur Jiwa, misalnya, disebut demikian karena sering ada domba atau kambing milik warga yang mati tanpa sebab jelas saat ditambatkan di lokasi ini. ”Tahun 1960-an, satu dari dua ekor kambing saya mati di sini, seperti beberapa kali menimpa hewan gembalaan warga lain sebelumnya,” ujarnya.
Sementara nama Blandongan mengacu pada tempat berkumpul. Saat terjadi banjir akibat luapan Sungai Citarum, Unur Blandongan menjadi tempat berkumpul bagi warga. Lokasinya lebih tinggi daripada tanah di sekitarnya sehingga terbebas dari genangan banjir.
Situs Batujaya pertama kali ditemukan tim dari Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) tahun 1985. Sebelumnya, tim ini menerima informasi dari warga tentang keberadaan unur-unur yang berserak di Batujaya saat melanjutkan penelitian di Situs Cibuaya, tempat ditemukannya arca Wisnu I (tahun 1952), arca Wisnu II (1957), dan arca Wisnu III (1975), sekitar 15 kilometer di timur Batujaya.
Warga menginformasikan banyak menemukan bata berukuran besar di Batujaya yang terpendam di tanah atau menumpuk membentuk gundukan di tengah sawah. Jumlah reruntuhan bangunan mencapai lebih dari 20 buah dan tersebar di kompleks yang berjarak 500 meter dari Sungai Citarum itu.
Penelitian tim FSUI di Batujaya menemukan Candi Jiwa, bangunan bata berbentuk bujur sangkar berukuran 19 meter x 19 meter dan tinggi 4,7 meter di atas permukaan sawah sekitarnya. Setelah bentuknya berhasil dimunculkan secara utuh, terlihat struktur bata dengan permukaan bergelombang dan bentuk melingkar yang menyerupai bunga teratai di bagian atas bangunan.
Tahun 1999 pemugaran berlanjut ke Candi Blandongan hanya beberapa meter dari Candi Jiwa. Bangunan utama Candi Blandongan yang berukuran 25 meter x 25 meter telah terlihat utuh sejak beberapa tahun lalu, tetapi penelitian dan pemugaran reruntuhan di sekitarnya masih berlangsung hingga kini.

Manusia awal sejarah
Kompleks Percandian Batujaya menyimpan beberapa temuan penting, di antaranya motif tablet berelief Buddha, fragmen prasasti tanah liat bertuliskan aksara Pallawa, tembikar, serta kerangka-kerangka manusia. Arkeolog Hasan Djafar menyebutkan, berdasarkan penentuan pertanggalan relatif dengan karbon C-14, kerangka-kerangka manusia ini diduga berasal dari tahun 150-400 Masehi atau sebelum masa candi tahun 650-900 Masehi.
Pada awal Mei 2010, tim penggalian Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang menemukan enam kerangka manusia sekitar 50 meter di selatan Candi Blandongan dalam proyek pemugaran yang ke-11 tahun 2010. Enam kerangka itu mirip dengan ”Jack the Ripper”, sebutan untuk kerangka manusia yang ditemukan Puslit Arkenas bersama Ecole Francaise d’Extreme-Orient (Perancis) di sekitar lokasi itu tahun 2005. Selain posisi kerangka membujur arah timur laut-barat daya, di dekat kerangka juga ditemukan gerabah yang diduga bekas kubur.
Sebagian arkeolog berpendapat kerangka-kerangka itu adalah pendukung budaya candi dan berasal dari rentang waktu yang sama. Sebagian arkeolog lain menilai kerangka dikubur sebelum ada candi atau dari awal sejarah.
Arkeolog Puslit Arkenas, Amelia Driwantoro, menyebutkan, kerangka-kerangka serupa pernah ditemukan di sejumlah lokasi di utara Karawang, seperti Desa Cikuntul, Kecamatan Tempuran; Desa Kendaljaya dan Dongkal, Kecamatan Pedes; Desa Pusakajaya Utara, Kecamatan Cilebar; serta Desa Jayakerta, Kecamatan Jayakerta. Hampir di semua tempat itu ditemukan bekas kubur, termasuk tembikar dengan kemiripan corak khas Buni yang diperkirakan berkembang pada abad kedua Masehi. Nama Buni mengacu pada tempat tembikar serupa ditemukan di Buni, Bekasi, dan dicatat sebagai temuan arkeologi.

Wisata
Penelitian, penggalian, dan pemugaran unur-unur di Kompleks Percandian Batujaya masih jauh dari selesai. Namun, dengan candi, reruntuhan bangunan dan benda-benda purbakala yang ditemukan, semua itu memiliki potensi wisata edukasi dan sejarah yang luar biasa.
Sejak 2004, Situs Batujaya memiliki gedung Penyelamatan Benda Cagar Budaya yang berdiri di lahan seluas 1.500 meter persegi, berjarak sekitar 600 meter dari Candi Jiwa. Bangunan ini memiliki ruang utama berukuran 6 meter x 9 meter dengan beberapa kotak kaca untuk memamerkan benda-benda cagar budaya.
Gedung itu kini direhabilitasi, dan penambahan ruang oleh pemerintah daerah. Namun, kapasitasnya dinilai belum mewadahi ratusan benda hasil penggalian yang masih menumpuk di ruang informasi dan gudang. Gedung juga dinilai belum bisa menampung pengunjung yang terkadang mencapai puluhan hingga ratusan orang dalam sekali kunjungan.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Karawang Acep Jamhuri menyatakan, pemerintah daerah menetapkan Kompleks Percandian Batujaya sebagai satu dari 11 kawasan pengembangan wisata Karawang. Kompleks itu juga diusulkan jadi kawasan strategis nasional.
Pengembangan Situs Batujaya mengalami kendala, terutama terkait pengelolaan yang melibatkan pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat. Satu dan lainnya saling terkait sehingga harus melalui proses penelitian, perencanaan, dan pelaksanaan yang matang. Upaya memperluas bangunan museum, misalnya, menunggu hasil penelitian dan pemetaan sehingga tidak merusak benda yang dimungkinkan berada di bawahnya.
Sumber : http://cetak.kompas.com/read/2011/04/30/03473192/unur-unur.berharga.di.pantai.utara
 

haa iki Menguak Kejayaan Batujaya

Sabtu, 30 April  2011

Menguak Kejayaan Batujaya

Kompas/Rony Ariyanto Nugroho - Beberapa pengunjung berekreasi di Candi Blandongan di kompleks Situs Batujaya, Karawang utara, Jawa Barat, Minggu (27/3). Kompleks percandian ini diperkirakan menjadi salah satu kompleks peradaban tertua di Nusantara.
M Kurniawan dan Cornelius Helmy

Muara Citarum diyakini pernah menjadi pelabuhan internasional saat kerajaan terbesar di Jawa Barat, Tarumanagara (4 Masehi-8 Masehi), berkuasa. Tempat pedagang dari bangsa-bangsa lain singgah, berdagang, dan membangun peradaban. Hal itu dibuktikan dengan temuan candi, rangka manusia berikut bekas kuburnya, serta aneka corak tembikar.
Meski tidak ditemukan lagi sisa pelabuhan kuno, beberapa ahli dan bukti sejarah di sekitar muara Citarum menguatkan hal itu. Peneliti Cornell University, Oliver William Wolters, mengatakan, dalam kitab Nan Chou I Wu Chih yang ditulis Wan Chen, pernah ada pelabuhan internasional bernama Ko-ying atau Ka-iwang pada abad ke-3 di Jawa Barat. Pelafalan Ko-ying dan Ka-iwang diduga menjadi asal-usul penamaan Karawang.
Bukti lain didapat melalui penggalian kompleks percandian Batujaya yang dimulai tahun 1985. Kompleks percandian batu bata ini memiliki 30 candi kecil dan berjarak sekitar 500 meter dari Sungai Citarum.
Penemuan ratusan gerabah arikamedu, misalnya. Gerabah pada abad ke-3 dan ke-5 ini diduga dibawa dari Pelabuhan Arikamedu di pantai timur India. Ada juga cermin, peralatan perunggu, gelang loklak, dan keramik dari Guangdong, China, dari abad IX dan X.
Arkeolog Hasan Djafar menduga ratusan barang itu tak begitu saja muncul, tetapi dibawa jauh menggunakan kapal besar yang bersandar di Pelabuhan Citarum. Sebagian buktinya dibawa dan disimpan oleh masyarakat saat itu di kompleks percandian Batujaya, yang letaknya sama-sama di pesisir laut utara.
”Batujaya muncul dari hasil perpaduan kebudayaan antara masyarakat pendatang dan warga setempat. Namun, Batujaya sepertinya bukan pusat pemerintahan Tarumanagara, melainkan bangunan peribadatan. Di tempat ini banyak disimpan barang-barang yang diperjualbelikan di Pelabuhan Ko-ying,” tutur Hasan.

Candi Buddha
Melalui metode isotop Carbon-14 diketahui, candi Buddha ini dibangun pertama kali antara abad VI dan VII, dilanjutkan abad IX dan X. ”Sejauh ini Candi Batujaya adalah candi Buddha tertua yang pernah ditemukan di Indonesia,” ujarnya.
Situs Candi Batujaya berjarak sekitar 1 kilometer di sebelah timur aliran Sungai Citarum. Luas kompleks itu 5 kilometer persegi, yang mencakup wilayah Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, dan Desa Telagajaya, Kecamatan Pakisjaya, atau 47 kilometer arah barat laut pusat kota Kabupaten Karawang.
Kompleks percandian ini memiliki 30 situs candi dan tempat pemujaan. Beberapa candi besar yang sudah diekskavasi adalah Candi Jiwa yang berbentuk bujur sangkar ukuran 19 meter x 19 meter serta Candi Blandongan yang berukuran 25,33 meter x 25,33 meter.
”Ada pengaruh tradisi Nalanda di India utara. Kebudayaan India itu datang seiring banyaknya pendatang dari sejumlah negara lewat perdagangan di pantai utara Jabar,” ujar Hasan.
Dari berbagai eksplorasi, ditemukan beragam bukti sejarah. Teknologi pembuatan candi terbilang canggih dan masih dipakai hingga saat ini.
Pengolahan tanah liat menjadi batu bata, misalnya. Pembuatan batu bata menerapkan inovasi campuran sekam atau kulit padi. Itu diyakini mematangkan bagian dalam batu bata saat dipanaskan hingga suhu 700 derajat celsius.
Teknologi lain adalah stuko atau plester berwarna putih berbahan dasar kapur. Kapur diambil dari pegunungan kapur di Karawang selatan. Perbukitan tersebut masuk dalam Formasi Parigi yang terdiri dari batu gamping klastik dan batu gamping terumbu yang melintang dari barat ke timur sekitar 20 kilometer.
Bahan dan kegunaannya disesuaikan dengan tujuan pengguna. Untuk melapisi tembok, arsitek mencampur kapur dan kulit kerang. Hal ini terkait dengan keberadaan candi di tepi pantai. Kerang dianggap sebagai bahan kuat penahan abrasi air laut. Stuko juga digunakan untuk membuat ornamen, relief, dan arca. Untuk ini, biasanya pekerja membakar kapur dengan suhu 900-1.000 derajat celsius. Untuk memperoleh fondasi yang kuat, kapur dicampur dengan pasir dan kerikil.
Penerapan mitigasi bencana juga sudah terlihat dari usaha meninggikan halaman candi dan mengeraskan lantai dengan lapisan beton stupa guna menghindari banjir. Buktinya bisa dilihat dari reruntuhan Candi Segaran V (Candi Blandongan). Hasan mengatakan, arsiteknya sudah mengetahui risiko banjir apabila hidup di sepanjang sungai dan muara Citarum.
Keterkaitan erat antara Batujaya dan pelabuhan di muara Citarum sempat menimbulkan perdebatan. Alasannya, kini Candi Batujaya berada 5-6 kilometer dari garis pantai Laut Jawa. Letak Batujaya pun kini lebih tinggi 2 meter di atas permukaan laut (mdpl) dibandingkan dengan muara Citarum.
Menurut ahli geografi T Bachtiar, apabila menilik kurva perubahan muka laut 10.000 tahun silam di Indonesia, terlihat jelas kebenaran teori itu. Kurva ini diambil dari tulisan Yahdi Zaim yang memuat gambar peta buatan De Klerk tahun 1983. Dikatakan bahwa telah terjadi transgresi (penambahan muka air laut) dan regresi (penurunan muka air laut) dihitung dari 7.000 tahun lalu hingga tahun 1983. Kurva tersebut menyebutkan bahwa tahun 485 Masehi-983 Masehi, atau saat pembangunan Batujaya, muara air laut berada pada ketinggian 0 mdpl-0,5 mdpl. Sejak tahun 1983 candi itu telah berada pada ketinggian 2 mdpl.
”Jika dieksplorasi lagi, yang menarik adalah kemungkinan adanya kanal mengelilingi layaknya bangunan suci kuno. Jika benar, semakin nyata bukti bahwa air, sungai, dan laut adalah identitas utama masyarakat Batujaya,” kata arkeolog dari Balai Arkeologi Bandung, Lutfi Youndri.
Sumber : http://cetak.kompas.com/read/2011/04/30/02313529/menguak.kejayaan.batujaya