Minggu, 01 Mei 2011

haa iki Sisa-sisa Kejayaan Citarum Purba

Minggu, 01 Mei 2011

Sisa-sisa Kejayaan Citarum Purba

OLEH DEDI MUHTADI

Anda tertarik batuan purba yang usianya lebih dari 25 juta tahun? Batuan kapur yang terbentuk dari laut dangkal sekitar 25-30 juta tahun lalu itu masih ada di Sanghyangpoek, Sanghyangtikoro, dan Sanghyangkenit, di Sungai Citarum purba yang kini masuk kawasan Unit Pembangkit Listrik Saguling, Jawa Barat.
Sanghyangpoek (poek artinya gelap, Dewa Kegelapan, karena bagian dalam gua sangat gelap). Tikoro artinya tenggorokan, Dewa Tenggorokan karena begitu air masuk ke gua ini seperti masuk ditelan bumi. Sanghyangkenit adalah Dewa Selendang.
Ketiga dewa itu, menurut legenda masyarakat Sunda buhun, berada di sepenggal Sungai Citarum sepanjang 7 kilometer yang masih bersih dengan pesona lingkungan yang indah, hijau lestari.
   Ketika matahari Sabtu (9/4) siang agak menyengat, dua petani pisang penuh riang, mandi bertelanjang di lubuk (leuwi) dangkal berair jernih yang mengalir di sela-sela batuan besar Sungai Citarum. Dasar sungai berpasir jernih terlihat jelas, lengkap dengan binatang air yang ikut berenang di sela-sela batu. Binatang ini merupakan indikator bahwa air itu masih bersih.
Pikulan pisang disimpan sembarang di pinggir sungai. Aman, karena daerah tertutup ini jarang dimasuki orang luar. ”Tiap dua minggu kami panen pisang sekitar 60-70 kilogram seharga Rp 1.250 per kilogram,” ujar Tadjudin (44), petani pisang warga Desa Rajamandala, Kabupaten Bandung Barat.
Tanah garapan Tadjudin bersama 40-an tetangganya berada di hutan Desa Cihea, Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur, yang merupakan kawasan jati Perum Perhutani Unit III Jabar-Banteng. Untuk mencapai lahan itu, Tadjudin harus berjalan sejauh 15 kilometer selama 2 jam. Mereka menanami lahan itu secara tumpang sari di sela-sela pohon jati Perhutani yang sedang tumbuh. Mereka menjaga pohon utama itu dari berbagai gangguan, termasuk penjarahan kayu.
Sebagian besar tanaman petani yang tumbuh di kawasan hutan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum adalah pisang ambon. ”Kami sudah 15 tahun menanami lahan itu,” ujar Bah Ohan (66) seraya menunjuk sederetan tanaman jati yang diameternya rata-rata sebesar tangan orang dewasa.

Memberi kehidupan
Bah Ohan, Tadjudin, maupun petani penggarap lainnya masing-masing memiliki binatang peliharaan pemakan rumput. Tadjudin memiliki 20 kambing yang rumputnya setiap hari secara mudah bisa diperoleh di sisi-sisi Sungai Citarum. Setahun sekali Tadjudin panen raya kambing yang dijual menjelang Idul Adha. Saat itu harganya sedang tinggi karena diperlukan untuk hewan kurban. ”Ketiga anak saya biaya sekolahnya dari hasil jual kambing,” ujarnya seraya menunjuk anak pertamanya yang baru lulus SMA. Alam yang terpelihara telah memberikan kehidupan kepada warga desa itu terus-menerus.
Malah 30-40 tahun lalu atau sebelum kawasan industri (tekstil) berkembang di Majalaya dan Dayeuhkolot di Kota Bandung, sekitar 50 kilometer hulu Saguling, Citarum purba di kampung Tadjudin berair jernih dan sering dijadikan sumber air minum langsung. ”Kami pergi ke tengah sungai lalu membenamkan lodong (potongan bambu sepanjang 2 meteran). Air itu langsung kami minum atau digunakan untuk menanak nasi,” kenangnya.
Akan tetapi setelah Citarum tercemar, menurut Tadjudin, warga di sana menderita. ”Jangankan untuk minum, jika kulit kena air Citarum sekarang bisa gatal,” ungkap Tadjudin.
Meski demikian, sisa-sisa kejayaan sungai purba ini masih ada, yakni di sepanjang tujuh kilometer antara Bendung Saguling dan Power House, Saguling. Ini karena bendung Saguling menutup arus Citarum untuk dialirkan ke turbin. Setelah memutar turbin berkapasitas 700-1.400 megawatt itu, air Citarum yang mengalir dari hulunya di Gunung Wayang, Bandung Selatan, dikeluarkan kembali ke Citarum di Sanghyangtikoro, di bawah turbin.
Citarum lama ini hanya dipasok oleh selokan-selokan kecil yang mengalir dari mata air-mata air di sekitar hutan kawasan ini. Di sepanjang alur ini ribuan batu besar-kecil yang memenuhi sungai masih berwarna abu-abu batuan asli. Gemericik air mengalir terus-menerus menambah indahnya panorama alam sisa-sisa ujung barat danau Bandung purba itu.
Namun, lima ratus meter di hilir Sanghyangpoek, warna ribuan batuan itu berwarna kuning busuk karena mendapat aliran air dari air Citarum yang sudah tercemar. Jika air di sekitar Sanghyangpoek warnanya bening dan bersih, setelah Sanghyangtikoro ke hilir melewati Sanghyangkenit, airnya kotor, penuh bermacam-macam sampah, terutama plastik.

Keragaman bumi
Ketiga fenomena alam zaman baheula ini berlokasi di Desa Rajamandala, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, yang langsung berbatasan dengan Desa Cihea, Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur. Jika Sanghyangtikoro berada di sekitar pembangkit Saguling sebagai pusatnya, jari-jarinya sekitar 500 meter ke hulu adalah Sanghyangpoek dan ke hilir 500 meter adalah Sanghyangkenit.
”Ini merupakan keragaman bumi yang sangat indah dan mengandung nilai keilmuan yang tinggi,” ungkap T Bachtiar, penulis yang juga anggota Masyarakat Geografi Indonesia dari Kelompok Riset Cekungan Bandung.
Pada zaman kolonial, kawasan ini sudah dijadikan daerah tujuan wisata orang-orang Belanda, seperti yang tertulis dalam buku panduan wisata tahun 1927, Gids van Bandoeng en Midden-Priangan, door SA Retsna en WH Hoodland. Pada awalnya gua kapur dua lorong sepanjang 25 meter ini merupakan sungai purba bawah tanah saat Citarum belum dibendung Saguling.
Menurut Bachtiar, batu kapur ini di Sanghyangpoek terdiri dari kalsium karbonat (CaCO3) yang larut dalam air dan menghasilkan gas karbon dioksida (CO) dari atmosfer. Air Sungai mengasah dan melarutkan batu kapur dari sisi sungai, menghasilkan bentukan yang oleh penggemar arung jeram disebut undercut. Kemudian jadi sungai bawah tanah yang berpadu dengan pelarutan dari atas, maka lengkaplah proses pembentukan gua menjadi sungai bawah tanah karena air mengalir ke dalam gua.
Kini Sanghyangpoek sudah tidak menjadi sungai bawah tanah sehingga dengan mudah dapat ditelusuri lorong-lorongnya. Di beberapa titik, tetes-tetes air masih melarutkan batu kapur yang berarti proses pelarutan batu kapur masih berlangsung. Karena itu proses pembentukan stalaktit, bentukan yang menggantung di langit-langit gua, dan stalagmit, bentukan alamiah di dasar gua, ataupun bentukan dindingnya masih terus berlangsung.
Di lorong-lorong gua yang tidak terlalu panjang, tersajikan pesona alam yang luar biasa indah. Di pinggirnya, gemericik air bening, bersih mengalir abadi, bertautan dengan suara burung yang beterbangan di antara hijaunya pepohonan. Nyanyian alam itu begitu syahdu, merdu walaupun hanya berlangsung di sepenggal alur Citarum lama.
Di luar kawasan ini gemuruh air Citarum sepanjang 269 kilometer bernada serak, sumbang, dan mengerikan. Sejumlah bahan kimia berbahaya, terutama logam berat, telah mencemari sungai purba ini sejak hulu hingga muaranya di Laut Jawa.
Sumber : http://cetak.kompas.com/read/2011/05/01/04590436/sisa-sisa.kejayaan.citarum.purba
 

haa iki Kala Bandung Lupa Sungai

Minggu, 01 Mei 2011

Kala Bandung Lupa Sungai

Oleh Aryo Wisanggeni G

Industrialisasi di Bandung tidak hanya mengubah wajah Sungai Citarum, tetapi juga mengubah cara hidup ”urang” Bandung. Perekonomian warga berkembang, tetapi warganya kian terasing dari sungai.
Begitu perupa Tisna Sanjaya memarkir motornya di depan hamparan padang plastik berukuran sekitar 25 meter x 25 meter, warga Kelurahan Cigondewah Kaler langsung mengelukannya. ”Kumaha damang Kang Kabayan?” beberapa warga menyapa bertanya kabar, berebut bersalaman.
Tisna memang terkenal sebagai Kang Kabayan, lantaran ia menjadi pembawa acara talkshow televisi lokal, Kabayan Nyintreuk. Si Kabayan menjejaki hamparan sampah itu, mengenang masa kecilnya.
”Dulu ini kolam, situ, yang airnya begitu jernih. Warga bahkan mengambil air wudu di situ itu,” tutur Tisna.
Kini, sampah plastik aneka warna, karton bekas, juga potongan busa dan beling, terhampar menjadi pemandangan setiap rumah yang berjajar mengelilingi bekas situ tersebut. Tisna bersemangat mengisahkan cita-citanya menyulap hamparan plastik itu menjadi hutan kota yang teduh dan hijau tanpa plastik. Namun, ”protes” Amas (62) membuyarkan angan Tisna.
”Kalau Kang Kabayan membuat hutan di sini, lalu di mana saya harus menjemur plastik? Lapangan ini satu-satunya tempat menjemur plastik dan kertas semen saya,” ujar Amas.
Tisna merindukan sungai yang berair jernih. Tetapi air di tempat itu kini selalu berganti warna mengikuti warna limbah buangan pabrik. Namun, Amas yang juga orang asli Cigondewah Kaler punya ingatan masa yang berbeda.
”Dulu Cigondewah memang lumbung beras. Saya dulu buruh tani, tidak pernah punya sawah meski Blok Sawah di Cigondewah kondang sebagai lumbung beras. Kini saya pengumpul plastik dan kertas semen, dan memiliki penghasilan yang lebih baik daripada menjadi buruh tani. Memang air tanah kami kini rusak sehingga kami harus membeli air untuk memasak seharga Rp 1.500 per 20 liter,” ujar Amas.

Kumuh miskin
Pabrik aneka industri di Kabupaten Cimahi dan Bandung tidak hanya memerah-kuning-hijaukan Sungai Cikendal, anak Sungai Citarum yang membelah Cigondewah Kaler. Industrialisasi yang dimulai sejak akhir tahun 1970-an itu juga menyediakan peluang usaha baru.
Cigondewah Kaler yang dulu kampung jawara, ”Jago Bobok - Jago Tarok”, kini dikenal sebagai kampung ”Kuya-Kumis”. Kuya-Kumis itu satir kehidupan Cigondewah Kaler, pelesetan kata ”kumuh kaya” dan ”kumuh miskin” yang hidup dengan menampung aneka sampah pabrik.
Plastik dilebur ulang menjadi bijih, sisa kain pabrik tekstil menjadi keset perca, karung bekas dicuci, kardus bekas dipilah, makanan kedaluwarsa disulap menjadi pakan ternak. Segala sampah pabrik menjadi pundi-pundi uang di Cigondewah.
Di kelurahan seluas 140 hektar itu ada 1.687 usaha kecil dan menengah, 432 usaha perdagangan, 65 warung, dan toko. Dari 16.000 penduduknya, hanya 278 orang yang menjadi petani. Jika 30 tahun lalu 90 persen lahan di Cigondewah Kaler adalah sawah, luasan sawah tersisa kurang dari 16 hektar.
”Puncaknya pertumbuhan ekonomi Cigondewah Kaler terjadi sebelum krisis moneter 1997. Mobil mewah itu barang biasa di Cigondewah. Saya kerap mencicipi rasanya menyetir mobil keluaran terbaru, diajak warga menjajal mobil baru mereka,” tutur Lurah Cigondewah Kaler Maulana Fatahudin.
Arif (24) dan adiknya, Ujang (23), bekerja di penimbunan plastik orangtuanya. Setiap hari mereka membakar hingga 200 kilogram sampah plastik menjadi gumpalan plastik yang lantas dicacahnya menjadi bijih plastik siap daur ulang. ”Untuk membakar plastik, kami memakai plastik tidak lolos sortir,” kata Arif. Setiap bulan, bapak satu anak itu menerima upah Rp 1,1 juta hingga Rp 1,7 juta.
Kemenakan dan tetangga mereka, Yusuf (13) dan Nanan (13), mulai ”magang” bisnis sampah dengan menjadi buruh cuci plastik. ”Saya tidak melanjutkan sekolah ke SMP, lebih baik bekerja daripada sekolah,” kata Yusuf sembari menjejalkan segunung plastik bening yang telah dicucinya di Sungai Cicukang ke dalam karung goni.
Yusuf dan teman-temannya adalah saksi bagaimana belajar mengurus sampah lebih menjanjikan masa depan ketimbang sekolah. Separuh warga Cigondewah Kaler tidak pernah bersekolah, atau tidak lulus SD, seperempat lainnya hanya ”Sarjana Dasar”. Tak ada SMP dan SMA di Cigondewah Kaler.
Beberapa tahun mendatang, Yusuf akan menikahi gadis Cigondewah. ”Sangat jarang terjadi orang Cigondewah menikahi orang luar Cigondewah. Urbanisasi ke Cigondewah hampir tidak ada, jadi akulturasi jarang terjadi. Mereka yang ’kuya’ orang asli Cigondewah, yang ’kumis’ juga asli Cigondewah. Industrialisasi memberikan segala peluangnya, tetapi kualitas hidup masyarakat kami tidak lebih baik,” ujar Usep Yudha Prawira, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Cigondewah Kaler.

Perubahan hidup
Cigondewah Kaler hanya potret kecil perubahan hidup permukiman di Daerah Aliran Sungai Citarum dan anak-anak sungainya yang dikepung pabrik. ”Ada yang menjadi kantong urbanisasi, ada pula yang menjadi gudang pengusaha seperti Cigondewah,” kata antropolog Universitas Padjajaran, Budi Rajab.
Bukan sungai yang tercemar yang memaksa warga bersalin jalan hidup. Namun, daya pikat peluang yang dimunculkan industrialisasilah yang mengubah mereka.
”Bagi orang Sunda, sungai dan air hanya instrumen ekonomi. Berbeda dengan orang Dayak misalnya, yang menempatkan sungai sebagai bagian dari kehidupan ritualnya,” tutur Budi Rajab.
Warga mengabaikan kerusakan DAS Citarum dan anak sungainya, karena merasa manfaat ekonomi pabrik pencemar dianggap cukup menggantikan manfaat ekonomi sungai, bahkan dengan pendapatan yang lebih besar.
”Kalau kami tidak segera membangun kebudayaan sungai kami, pastilah DAS Citarum akan semakin hancur,” kata Budi.
Tisna mencoba membangunnya di Cigondewah melalui Pusat Kebudayaan Cigondewah, yang kerap menggarap kehancuran lingkungan Cigondewah sebagai inspirasi proses kreatif bersama warganya. ”Kami tidak bisa mengkritik frontal kehancuran lingkungan Cigondewah. Melalui seni, kami mencoba menginspirasi, mengajak warga memikirkan sungai dan airnya. Memang tidak mudah,” ujar Tisna
Sumber : http://cetak.kompas.com/read/2011/05/01/05153952/kala.bandung.lupa.sungai