Selasa, 08 Juni 2010

haa iki AKU MATA HARI 32

AKU MATA HARI
Selasa, 8 Juni 2010 | 03:02 WIB

Remy Sylado

Pada putaran kedua, aku mencoba menari lagi dengan lebih bebas. Orang-orang yang menyaksikan tarianku itu kelihatannya sukacita. Mereka pun memuji, mengatakan bagus. Untuk itu aku belajar juga, bahwa jika orang Jawa bilang bagus, haruslah pula aku memiliki reserve untuk kosokbalinya. Sebab, aku tahu, dari pengalaman, bahwa manusia Jawa adalah orang-orang yang pandai, jika bukan arif, untuk menjaga kerukunan dan keselarasan alami dalam bermasyarakat. Bahwa, supaya orang bisa hidup rukun dan laras, seyogyanya orang menjaga mulut untuk tidak perlu mengucapkan secara verbal pendapatnya yang berbeda.
Aku suka berada di tengah mereka. Mereka bukan abangan, sebab kata ’abangan’ diartikan sebagai: orang-orang yang mengaku Islam tapi tidak menjalankan ajaran-ajarannya. Toh aku menyebut mereka abangan, dalam arti mereka tidak beragama apapun, termasuk Buddha maupun Hindu yang menjadi sinkretisme Jawa sejak zaman Raja Kertanegara.
Kalau ditimbang-timbang ketidakberagamaan mereka, kecuali ajaran kebajikan Jawa menyangkut eling, sejalan pilihanku kiwari sebagai vrijdenker. Aku sendiri belum sembuh dari penyakit prasangka terhadap agama, dengan melihat sejarah gereja di Eropa, dan pertanyaan yang tak terjawab dalam diriku sampai sekarang: mengapa agama yang mengajarkan kebajikan justru selalu menimbulkan pertikaian penganutnya yang mempersoalkan perbedaan?
Ah, aku mau menari lagi. Senyampang di tempat di mana aku merasa damai begini. Aku akan menari sampai badanku letih lalu tidur nyenyak.
Anakku sendiri, Norman John, sudah tertidur lelap sejak tiga jam yang lalu.
Aku sendiri tertidur di atas balai-balai depan pelataran sanggar ini, terlena, nyaman diterpa angin dari utara, dan mimpi warna-warni.
Tidurlah badanku, tidur
bangunlah rinduku, bangun
pada satu-dua tetes embun
di batang mawar seribu duri
yang memberi makna harapan hidup
Aku tahu telah bersemayam di mulut
cerita surga yang pindah dalam hatiku
Cinta dan benci hari ini
tak terpeta dalam anganan
kecuali besok aku jadi abu.
Pagi-pagi aku bangun digugah oleh bunyi kicau berbagai burung—kepodang, jalak, kutilang, cucakrawa—di atas pohon.
Aku berdiri dari balai-balai, ke sumur di belakang rumah, menimba air dengan hati-hati karena tali yang menggantung ember bocor adalah tali ijuk yang tajam-tajam.
16
Aku merasa dikajeni di sanggar seni pinggir Kali Elo ini. Pemimpinnya sendiri merasa senang karena aku ikut-ikutan memanggilnya Mbah Kung.
Di sini aku diberi sebuah rumah kecil, berdinding papan, pas satu kamar, menghadap ke timur. Di depan rumah ini ada burung perkutut dalam sangkar gaya mataraman terbuat dari penjalin dan bambu, yang arang-arang manggungnya, tapi sekali manggung di latar bunyi gamelan, terdengar magis, tak cukup perbendaharaan kata dari pengalaman batin di usiaku yang begini muda untuk bisa menerangkan asrar kedalamannya.
Rencana yang sudah ada dalam pikiranku, adalah aku masih akan tinggal di sini sampai lusa, dan setelah itu aku belum menentukan ke mana arah langkahku. Satu dan lain hal, karena rasa-rasanya aku masih berminat memelihara marahku pada Ruud.
Selain itu, bicara soal lusa, rombongan kesenian pimpinan Mbah Kung ini pada hari itu akan mengisi acara pertunjukan di bawah Candi Borobudur untuk menyambut Sri Sultan Hamengkubuwono yang akan datang dari Ngayogyakarta Hadiningrat ke sini mengantar seorang tamu agung dari Batavia, J. Th. Cremer, mirip nama Menteri Urusan Koloni.
Mbah Kung memberi kesempatan kepadaku—mudah-mudahan aku sanggup melaksanakannya—menari berdua dengan Astri putrinya. Semua anggota mendukung. Itu membuat aku semakin percaya, bisa menyesuaikan diri sebagai bagian dari masyarakatnya. Di sini aku merasa benar-benar menjadi manusia, bukan bangsa.

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/08/03022536/aku.mata.hari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar